Oleh Suyatno
Buku ajar yang paling tepat semestinya dibuat oleh guru yang bersangkutan, di sekolah tempat guru mengajar, dan disesuaikan dengan karakter lingkungan sekolah tersebut. Namun, saat ini, banyak buku ajar yang dibuat oleh orang lain, dari tempat yang jauh, dan sangat tidak kontekstual. Akibat dibuat oleh orang lain, buku ajar yang digunakan tidak mengena dan tidak tepat. Contohnya, buku ajar dengan topik pertanian, yang dicontohkan pertanian di pegunungan padahal, siswa pengguna buku ajar berada di kawasan pertanian dekat pantai; topik transportasi yang dicontohkan kereta api padahal di tempat siswa belajar yang ada hanya perahu.
Hasilnya, siswa lebih mengenal kereta api daripada perahu dan siswa lebih mengenal pertanian pegunungan daripada pertanian dekat pantai di daerahnya. Siswa menjadi terasing di bumi sendiri. Hal demikian menyalahi prinsip belajar, yakni dari yang dekat ke yang jauh, dari konkret ke abstrak, dari mudah ke yang sulit, dari sederhana ke yang kompleks, dan dari diri sendiri ke lingkungan luarnya.
Penyimpangan peruntukkan tersebut terjadi karena kelangkaan buku ajar yang kontekstual, dominasi penerbitan, sentralisasi kebijakan, dan kemalasan guru dalam membuat buku ajar. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, ke depan, pendidikan tidak dapat memenuhi harapannya, yakni membumi, sesuai dengan persepsi siswa, dan kontekstual. Untuk itu, guru perlu segera menyiapkan diri untuk membuat buku ajar meskipun hanya sederhana.
Buku ajar sangat mudah dibuat oleh guru. Himpunlah materi pembelajaran dari RPP kemudian tambahkan instrumen lainnya, maka jadilah buku ajar. Berilah siswa daftar keinginan belajar dan himpunlah menjadi sebuah bendel keinginan. dari keinginan itu, buku ajar dapat terwujud. Lalu, mengapa menulis buku ajar dirasakan susah?
Cara mudah lainnya dalam membuat buku ajar adalah memalui peta pikiran. Peta pikir di sini bukan merupaka prasyarat untuk mengembangkan buku ajar, akan tetapi peta pikiran ini semacam brainstorming yang akan membantu membuka pikiran guru seluas-luasnya sehingga memudahkan untuk mengadakan pemilihan atau mengambil keputusan. Peta Pikir (Buzan & Buzan, 2000) merupakan alat berpikir yang sangat efektif karena ia memberi peluang kepada guru untuk membuat garis besar tentang berbagai gagasan pokok (main ideas) dan menyebabkan kita melihat secara jelas dan cepat bagaimana berbagai gagasan tadi saling berhubungan dan berkaitan. Peta Pikir seakan-akan menyiapkan suatu tahapan tepat guna antara proses berpikir dan pencurahan pikiran kita dalam bentuk kata sebenarnya di atas kertas.
Dengan menggunakan Peta Pikir untuk memaparkan kebutuhan dan keinginan, prioritas dan faktor penghambat, guru dapat membuat keputusan berdasarkan pandangan yang lebih jelas mengenai masalah yang sedang Anda hadapi.
Cara berikutnya, buatlah daftar kebutuhan yang akan menjadi dasar pengembangan buku ajar. Daftar kebutuhan yang telah dibuat dapat juga disebut keputusan dyadic (berasal dari kata Latin dyas yang berarti ‘dua’). Secara luas keputusan dyadic dapat digolongkan sebagai keputusan berkenaan dengan penilaian dan keputusan ini mecangkup pilihan sederhana seperti: ya/tidak, lebih baik/lebih buruk. lebih kuat/lebih lemah, lebih efektif/kurang efektif, lebih efisien/kurang efisien, lebih mahal/tidak begitu mahal.
Sehubungan dengan buku ajar yang akan dikembangkan guru, peta pikir dapat membuka pikiran selebar-lebarnya dan dengan demikian sangat membantu guru menemukan berbagai gagasan cara menyajikan materi buku ajar berdasarkan pada analisis kebutuhan. Pemikiran analisis kebutuhan (Cohen, Lawrence & Morrison, 2001)
telah ada di dunia pendidikan lebih dari seabad, berasal dari kesejahteraan sosial (misalnya, perumahan, ketenagakerjaan, pencegahan kejahatan, dan program pendidikan kemiskinan), program kesehatan dan penelitian kebijakan sosial. Salah satu kegunaan analisis kebutuhan ialah: mengenali (identify) kebutuhan peserta belajar.
Dalam merencanakan suatu analisis kebutuhan ada empat tahap yang dapat diikuti guru:
Tahap 1: Tentukan tujuan analisis kebutuhan dan definisikan apa yang dimaksud
dengan kebutuhan yang akan dianalisis.
Tahap 2 Kenali (Identify) fokus analisis kebutuhan.
Tahap 3: Tentukan metodologinya, cara pengambilan sampel, penginstrumentasian,
pengumpulan data, prosedur analisis, dan kriteria yang digunakan untuk
menilai besaran, lingkup, tingkat, serta kepelikan kebutuhan tersebut, dsb.
Tahap 4: Tentukan pelaporan dan penyebaran hasilnya. (Cohen & dkk, 2001).
Pengembangan materi adalah proses perencanaan yang diciptakan dalam bentuk unit. Materi buku ajar dalam berbagai unit tersebut menerapkan tujuan umum dan tujuan khusus yang telah dibuatnya. Pengembangan materi berlangsung sepanjang kontinum penentuan keputusan dan kreativitas yang terentang mulai dari diberinya buku ajar sampai sebuah jadwal untuk “mencakup” buku ajar tadi. Pada waktu guru ingin mengembangkan paket belajar, guru harus mengetahui apa tujuan/sasaran paket belajar ini. Organisasi buku ajar tersebut sebagai berikut.
a. Pendahuluan
b. Kompetensi
c. Fokus Kegiatan
d. Kemampuan Khusus
e. Evaluasi
f. Rujukan
g. Saran prosedur belajar
Misalnya, buku ajar tentang : Komunikasi di Bandar Udara. (a)Pada bagian Pendahuluan memerikan apa yang akan diajarkan dalam buku ajar ini. (b)Pada bagian Kompetensi ditulis tujuan umum yang akan dicapai oleh peserta belajar, (c)Dalam Fokus Kegiatan dikenalkan kosa kata sehubungan dan yang berkaitan dengan bandara dan sekitarnya serta cara penggunaan kata-kata tersebut dalam kalimat sederhana (sebetulnya sederhana atau tidak bergantung pada pengetahuan awal peserta belajar yang dapat Anda ketahui dari hasil analisis kebutuhan). Peserta belajar disuruh mempelajarinya. (d) Kemampuan khusus dinyatakan dengan kata operasional tentang
kemampuan yang diharapkan dari pseserta belajar setelah mempelajari Fokus Kegiatan. (e) Evaluasi ditandai dengan peserta belajar yang diharapkan dapat mengevaluasi
sendiri apakah sudah menguasai apa yang telah dipelajarinya. (f)Rujukan berisi semua buku yang digunakan dalam buku ajar. (g) Anjuran prosedur belajar memerikan atau usul bagaimana sebaiknya belajar.untuk menguasai materi ajar seperti yang diharapkan dalam Kemampuan Khusus.
Rabu, Agustus 20, 2008
Buku Ajar Sangat Mudah Dibuat Guru
Jumat, Agustus 08, 2008
Guru di mata Mbok Siti (8)
Aku semakin senang saja bertemu dengan Mbok Siti yang bersahaja dan menyukai pakaian hitam yang sederhana. Siang itu, matahari menyengat kulit. Kusempatkan mampir ke rumah Mbok Siti.
Tiba-tiba, Mbok Siti membawa air minum dengan wadah kendi (tembikar berbentuk ceret) sambil menyilakan padaku untuk meminumnya. Dengan sekejap air itu aku minum karena bertepatan dengan tenggorokan kering. "Mbok, air ini sangat segar", ucapku sambil menyeka air yang masih menempel di bibirku.
"Iya, Nak. Air itu merupakan obat haus bagi kita. Begitu pula, guru juga harus dapat seperti air yang mampu mengusir rasa haus siswa-siswanya, memberikan kesegaran, dan membantu sirkulasi tubuh", ujarnya. Padahal, aku belum membuka omongan tentang guru, Mbok Siti tanggap bahwa kedatanganku memang untuk berdialog tentang guru.
"Guru perlu meniru air", tambahnya. Air itu selalu mampu melarutkan kotoran ke dasar. Kemudian, air menyembulkan kejernihan. Kotoran yang larut lama-lama akan menjadi pupuk dan memberikan ruang hidup bagi renik. Guru juga perlu melarutkan problematika yang dipunyai siswanya. "Dia harus mampu menjaga rahasia siswanya dalam keadaan apapun", kata Mbok Siti yang duduk di sebelahku. Air adalah guru kita. Lihat saja, air selalu mengalir ke bawah. Air dapat menyesuaikan permukaan tanah. "Air adalah sumber kehidupan", ujar Mbok Siti dengan lembut.
Kamis, Agustus 07, 2008
Mengajar dengan Metode Hipnosis
Pernahkah seorang siswa larut dengan cerita dongeng yang dibawakan gurunya? Jika pernah, siswa itu dapat dikatakn berada dalam jangkauan hipnosis. Siswa asyik dengan menggambar, mengerjakan soal matematika, terkesima dengan puisi yang dibuatnya, dan larut dengan gaya guru mengajar merupakan kondisi berlangsungnya hipnosis. Dalam pembelajaran, guru dapat dengan sengaja menggunakan metode hipnosis agar siswa senang, asyik, dan mudah memahami materi.
Menurut Wikipedia, kata "hypnosis" adalah kependekan dari istilah James Braid's (1843) "neuro-hypnotism", yang berarti "tidurnya sistem syaraf". Orang yang terhipnotis menunjukan karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak, yang paling jelas adalah mudah disugesti. Hypnotherapy sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi. Hipnosis tersebut dapat pula digunakan guru untuk melejitkan potensi siswanya.
Hipnosis didefinisikan sebagai suatu kondisi pikiran saat fungsi analitis logis pikiran direduksi sehingga memungkinkan individu masuk ke dalam kondisi bawah sadar (sub-conscious/unconcious), sehingga tersimpan beragam potensi internal yang dapat dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup. Individu yang berada pada kondisi “hypnotic trance” lebih terbuka terhadap sugesti dan dapat dinetralkan dari berbagai rasa takut berlebih (phobia), trauma ataupun rasa sakit. Individu yang mengalami hypnosis masih dapat menyadari apa yang terjadi di sekitarnya berikut dengan berbagai stimulus yang diberikan oleh terapis. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa hypnotherapy menstimulir otak untuk melepaskan neurotransmiter, zat kimia yang terdapat di otak, encephalin dan endhorphin yang berfungsi untuk meningkatkan mood sehingga dapat merubah penerimaan individu terhadap sakit atau gejala fisik lainnya.
Sementara menurut Profesor John Gruzelier, seorang pakar psikologi di Caring Cross Medical School, London, guna menginduksi otak dilakukan dengan memprovokasi otak kiri untuk nonaktif dan memberikan kesempatan kepada otak kanan untuk mengambil kontrol atas otak secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat otak fokus pada suatu hal secara monoton yang menggunakan suara dengan intonasi datar (seolah-olah tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan).
Secara umum mekanisme kerja hypnotherapy sangat terkait dengan aktifitas otak manusia. Aktifitas ini sangat beragam pada setiap kondisi yang diindikasikan melalui gelombang otak yang dapat diukur menggunakan alat bantu EEG (Electroenchepalograph). Berikut diuraikan berbagai gelombang otak disertai dengan aktifitas yang terkait:
Beta ( 14 - 25 Hz)(normal);
Atensi, kewaspadaan, kesigapan, pemahaman, kondisi yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kecemasan, ketidaknyamanan, kondisi lawan/lari
Alpha (8 – 13 Hz)(meditatif);
Relaksasi, pembelajaran super, fokus relaks, kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur, meditasi, awal mengakses pikiran bawah sadar (unconscious)
Theta (4 – 7 Hz)(meditatif);
Tidur bermimpi (tidur REM/Rapid Eye Movement), peningkatan produksi catecholamines (sangat vital untuk pembelajaran dan ingatan), peningkatan kreatifitas, pengalaman emosional, berpotensi terjadinya perubahan sikap, peningkatan pengingatan materi yang dipelajari, hypnogogic imagery, meditasi mendalam, lebih dalam mengakses pikiran bawah sadar (unconscious)
Delta (0,5 – 3 Hz)(tidur dalam);
Tidur tanpa mimpi, pelepasan hormon pertumbuhan, kondisi non fisik, hilang kesadaran pada sensasi fisik, akses ke pikiran bawah sadar (unconscious) dan memberikan sensasi yang sangat mendalam ketika diinduksi dengan Holosinc
Melalui pictograph dan tulisan-tulisan kuno lainnya dapat disimpulkan bahwa hipnosis telah digunakan sejak zaman prasejarah. Papirus Ebers di Mesir, dokumen yang berusia 3000 tahun, mencatat bagaimana para pendeta mesir melakukan pengobatan. Dijelaskan dalam dokumen tersebut berbagai teknik yang digunakan yang ternyata merupakan gambaran atas mekanisme kerja hipnosis. Pada era primitif, sedikitnya terdapat dua bentuk hipnosis yang diterapkan, keduanya berkaitan dengan ritual keagamaan, antara lain:
pengulangan ritmik (rhythmical repetition)
Tarian ritual (frantic dancing)
Pada abad pertengahan, hipnosis diterapkan di antara para bangsawan dan dikenal sebagai “sentuhan bangsawan” (royal touch). Para tokoh hipnosis pada saat itu antara lain adalah Edward the Confessor (1066) dan para raja di Perancis, yang menganggap diri sebagai Tuhan. Ide tersebut kemudian mati di akhir abad ke-18, bersamaan dengan terbitnya periode renaissance, ketika kebanyakan orang mencari dasar ilmiah atas berbagai fenomena. Ritual sentuhan bangsawan dihidupkan kembali pada saat penobatan Charles X. Salah seorang yang berpengaruh pada periode tersebut adalah Paraselsus. Ia beranggapan bahwa tubuh surgawi memberi makan ke tubuh manusia melalui perantara magnet. Ia berkeyakinan bahwa magnet mampu mengobati berbagai penyakit.
Franz Anton Mesmer (1734 – 1815) seorang berkebangsaan Vienna yang kemudian pindah ke Paris menjelaskan lebih lanjut mengenai fenomena penyembuhan menggunakan magnet. Dalam penjelasannya, Mesmer banyak mengkutip ide dari para ahli pendahulunya, antara lain:
Paracelsus, dengan idenya mengenai magnet
Richard Mead, yang menyatakan bahwa seluruh kehidupan dijalankan oleh hukum alam
Father Hell, pendeta jesuit, yang mencoba menemukan cara menyembuhkan orang dengan menggunakan lempengan logam. Lempengan ini kemudian di lewatkan melalui tubuh orang. Ia berkeyakinan bahwa proses penyembuhan dari tubuh surgawi mampu menyembuhkan orang.
Mesmer turut mengklaim bahwa tubuh surgawi menyembuhkan. Dari Richard Mead, ia mendapatkan ide bahwa di setiap tubuh manusia terdapat cairan universal. Ketika cairan tersebut mengalir lancar, segala hal di tubuh berlangsung secara sempurna. Tubuh tidak bekerja secara sempurna, disebabkan karena aliran cairan universal di tubuh terhalang. Mesmer menjalankan lempengan logam melalui tubuh pasien guna melancarkan aliran cairan universal (teori “magnet hewani” / ”animal magnetism”). Mesmer mengklaim bahwa ia memiliki energi khusus. Ia mengatakan bahwa magnet mengalir ke tubuhnya melalui tongkat ajaib. Ia berkeyakinan bahwa ia dapat menyembuhkan apa pun menggunakan magnet. Pada periode itu ia sangat sukses dengan metode penyembuhannya. Ia kemudian meminta French Academy of Medicine untuk mempelajari metodenya. Komisi yang diketuai oleh Ben Franklin kemudian ditunjuk untuk melakukan penyelidikan berkenaan dengan metode penyembuhan Mesmer. Komisi tersebut menemukan bahwa magnet tidak memberikan efek Mesmer kemudian didiskreditkan pada tahun 1784. Hasil temuan dari komisi menyatakan bahwa magnet tidak menghasilkan efek apa pun.
Marquis de Puysegur (1781 – 1825), salah seorang pengikut Mesmer, ketika menerapkan metode yang digunakan Mesmer pada seorang pengembala berusia 24 tahun, menemukan suatu fenomena yang tidak diketahui sebelumnya oleh Mesmer. Ia mendapati bahwa subjek yang dipengaruhi magnet, bukan hanya mengalami fenomena yang tidak awam tetapi juga tertidur lelap. Pada kondisi ini, subjek tidak dapat membuka matanya, berbicara secara kurang jelas namun bertingkah seolah-olah sadar. Puysegur menyebut kondisi ini sebagai “artificial somnambulism”. Joseph Philippe Francois Deleuze (1753 – 1835) menemukan bahwa sugesti yang diberikan kepada subjek selama dalam kondisi trance terus terbawa hingga saat subjek tersadar.
Esdaile (1845) seorang dokter Inggris menulis buku, “Mesmerism in India”. Ia bekerja di sebuah penjara di India dan melakukan lebih dari 3000 operasi tanpa menggunakan obat bius. Umumnya pada kondisi ini, 50% dari pasien akan meninggal. Ia melatih para asistennya serangkaian metode tertentu. Dengan metode tersebut, laju kematian dapat ditekan hingga hanya 5%. (kini diketahui penjelasan di balik fenomena ini, pada hypnosis, pendarahan dapat diminimalkan. Selain itu tubuh juga mengembangkan resistensi terhadap infeksi dan tidak mengalami dehidrasi).
Kasus pencabutan gigi pertama menggunakan hipnosis dilakukan pertama kali pada tahun 1823. Diikuti dengan proses melahirkan menggunakan hipnosis pada tahun 1826.
Pada tahun 1880, dua sekolah hipnosis mulai didirikan. Charcot, seorang neurologist (terminologi awal untuk psikolog] di Perancis memberikan hypnosis pada dua belas wanita yang mengalami hysteria. Charcot memberikan demonstrasi pada saat hypnosis para pasien dapat berjalan dan melakukan banyak hal lainnya, namun mereka kembali kehilangan kemampuan tersebut ketika mereka berada pada kondisi normal. Charcot tidak sepenuhnya memahami hypnosis (ia menganggap hypnosis sangat berbahaya dan hanya kepada pasien yang secara mental sakit hypnosis dapat dilakukan).
Bernheim, seorang neurologist Perancis yang sangat terkenal, dan Liebeault, seorang dokter, membuat klinik di Nancy, Perancis. Mereka mengobati lebih dari 12.000 pasien menggunakan hypnosis, dan memperkenalkan konsep suggestibility dan sexuality. Selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II, hypnosis digunakan untuk memberikan perlakuan pada para prajurit yang mengalami trauma. Pada tahun 1955, British Medical Association menyatakan bahwa hypnosis layak digunakan untuk mengobati hysteria dan digunakan sebagai anastesi. Tahun 1958, American Medical Association membuat pernyataan yang sama sekaligus mengkritik keras hypnosis yang ditujukan sebagai hiburan/pertunjukan (stage performance). Tahun 1960, American Psychology Association membentuk dewan penilai kelayakan seorang hipnotis.
Dari sejarah hipnosis tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipnosis memiliki kekuatan tersendiri yang dapat digunakan sebagai sarana untuk memengaruhi orang lain demi keuntungan positif dan negatif. Guru perlu belajar untuki menggunakan hipnosis untuk pembelajarannya. Berkaitan dengan pembelajaran, hypnotherapy dapat aplikasikan untuk meningkatkan daya ingat, kreativitas, fokus, merubuhkan tembok batasan mental (self limiting mental block) dan lainnya. Hal ini tentunya sangat penting dalam proses pembelajaran guna mencapai prestasi optimal.
Pembelajaran dengan hipnosis mengutamakan fokus ke satu hal. Karena fokusnya ke satu hal, pembelajaran lebih mudah terjadi jika dibandingkan dengan pembelajaran saat siswa fokus ke beberapa hal. Untuk sampai ke keadaan fokus ke satu hal ini, beragam metode dapat dilakukan. Siswa bisa duduk di kursi dengan mata terpejam sambil menyadari masuk dan keluarnya nafas. Ajaklah siswa memfokuskan perhatian kepada suatu titik, gambar, gerakan benda. Guru dapat juga mengingat keadaan yang menyenangkan dan merasakannya kembali kepada siswa. Ajaklah siswa mengingat kembali pengalaman saat sedang menonton acara yang membuatnya nyaman. Suruhlah siswa menghitung mundur dari 100 hingga 1 dan menyadari semakin mundur semakin relaks. Cara-cara untuk masuk ke dalam keadaan fokus ini dinamakan INDUKSI. Tujuan dari induksi ini adalah agar siswa lebih relaks, sehingga Mereka lebih fokus dan bank ingatan anda terbuka.
Bank ingatan ini adalah tempat semua program-program hidup anda selama ini . Membuka bank ingatan ini dalam keadaan banyak fokus tidak mudah. Hanya dalam keadaan single focus sajalah, bank ingatan ini mudah terbuka dan mudah pula untuk menerima program-program pembelajaran baru. Bank ingatan ini dikenal dengan nama Long Term Memory, Subconscious ataupun Unconscious.
Setelah berinduksi, ajaklah siswa berafirmasi. Affirmasi adalah menyatakan seuatu yang positif tentang diri Anda. Mulai saat ini hentikanlah kata atau kalimat yang menyatakan diri anda dengan citra negatif. Mulai saat ini lakukanlah memberikan pernyataan-pernyataan positif tentang diri Anda. Buatlah sendiri pernyataan-pernyataan apa yang anda inginkan tentang diri anda. Saya menulis beberapa , anda bisa melanjutkannya dan membuatknya sesuai dengan yang Anda inginkan .
• Saya pandai dalam semua pelajaran
• Saya menarik sebagai pembicara
• Apapun lelucon yang saya sampaikan, pendengar terhibur
• Saya tampil tenang, mampu menguasai keadaan, dan berbicara lancar
• Apapun yang saya lakukan membuat saya semakin baik dan kreatif
• Masalah apapun yang muncul di hadapan saya mampu saya atasi
Kemudian, ajaklah siswa untuk memproduksi konsep atau contoh melalui visualisasi. Visualisasi meskipun mengandung kata VISUAL yang artinya penglihatan mempunyai makna yang lebih luas mencakup keenam indra (lihat, dengar, cium, raba-rasa, kecap, pikiran). Latih berulang-ulang VISUALISASI ini hingga otomatis dan otak mendapatkan gambaran dengan skenario paling sempurna. Ketika skenario ini tercatat di otak, dan otak mengirimkan perintah ke seluruh anggota tubuh yang tercitrakan dalam visualisasi ini, siaplah untuk bersyukur, karena apa yang anda Visualisasikan terjadi dalam kenyataan. Latihlah VISUALISASI ini dimulai dengan hal-hal sederhana.
Metode hipnosis dapat digunakan oleh guru dengan prinsip agar pembelajaran mencapi tujuan. Langkah yang perlu dilakukan adalah (1) identifikasi terlebih dahulu kebutuhan siswa, (2) rencanakan pembelajaran dengan mengaitkan media hipnosis seperti suara, gambar, tulisan, gerak, dan simbol-simbol, (3) mulailah mengajar dengan tetap pada rencana yang dibuat dengan melakukan induksi, (4) lakukanlah afirmasi sebagai bahan untuk memunculkan gagasan dari anak, (5) lakukanlah visualisasi sebagai sarana agar siswa dapat memproduksi gagasan sebanyak-banyaknya berkaitan dengan topik pembejaran hari itu, (6) lakukanlah evaluasi, dan (7) sebelum pembelajaran berakhir, lakukan refleksi tentang yang dialami siswa.
Jumat, Agustus 01, 2008
Guru di mata Mbok Siti (7)
Mbok Siti yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga sambil membawa rambanan (dedaunan untuk makanan kambing) berbagai macam untuk tiga ekor kambing kesayangannya. Ikatan dedaunan itu ditaruhnya pelan sambil diurai di depan kambingnya. "Menunggu merupakan waktu yang paling lama di dunia ini", ujarnya pelan sambil melirikku. Aku kaget. "Kok tahu ya, Mbok Siti atas kemenungguanku?", gumamku.
Mengapa dedaunan yang dibawa beraneka warna? Warna tumbuhan memberikan tanda terhadap tumbuhan itu sendiri. Begitu pula, pohon, dahan, akar, daun, bungan, dan buah tumbuhan mempunyai ciri tersendiri yang membedakan dengan tumbuhan lain. Begitu pula, guru juga harus mempunyai warna tersendiri sehingga dapat dibedakan dengan profesi lainnya. "Jika guru kehilangan warna, siswa juga akan kehilangan selera", ujar Mbok Siti. Untuk itu, guru, di manapun dia, harus tetap memunculkan warna yang khas sehingga tetap memberikan manfaat bagi dirinya. "Orang tertarik sesuatu karena bentuk, fungsi, dan manfaatnya", kata Mbok Siti sambil meneguk air putih di gelas usangnya. Guru haruslah mempertahankan bentuk, fungsi, dan manfaatnya agar siswa kita tidak sia-sia belajar.
Guru, Sudahlah Jangan Jual Buku

Oleh Suyatno
Kawanku guru, sudahlah jangan jual buku meskipun disuruh kepala sekolah, penerbit, maupun orang tua karena akibatnya cukup memalukan dan merendahkan martabat guru. Hermin, kepala sekolah di Kec. Sukomanunggal, Surabaya dimutasi menjadi staf kantor UPTD (dulu cabang dinas) Sukomanunggal gara-gara menjual buku ke siswa. Penjualan itu sebenarnya dimaksudkan untuk mempermudah siswa mendapatkan buku. Namun, karena terkena aturan permendiknas no 2/2005 tentang Buku Teks Pelajaran, tetap saja perbuatan Bu Hermin menyalahi aturan.
Sekarang ini, banyak orang tua yang menuntut sekolah termasuk guru hanya karena masalah yang sangat sepele. Guru harus sadar akan hal itu. Keterbukaaan semacam itu memang sangat baik hanya saja terkesan menjadi keterlaluan alias kebablasan. Lihat saja, di Jakarta, otot leher orang tua tampak disorot TV saat protes ke diknas tentang penjualan buku yang dilakukan guru. Entah berapa otot lagi yang harus menegang untuk memprotes tindakan guru.
Kasihan, guru saat ini, karena semakin saja diinjak-injak reputasinya. Perjalanan hidup guru memang jarang beruntung. Guru sering menjadi kambing hitam ketika masalah pendidikan muncul. Tuduhan kambing hitam itu terkait kualitas yang rendah, kurang profesional, gaji yang rendah, jual beli nilai, pemberian les privat sampai masalah “pewajiban” menggunakan buku bagi anak didiknya.
Cobalah guru hanya menunjuk buku yang terkait dengan topik jika siswa ingin memperdalam materi. Berikan sebaran judul yang layak dibaca. Biarkan orang tua berkreasi mencari buku dengan harganya sendiri. Berniatlah mengajar dengan tulus tanpa berpikir mendapatkan uang samping dari rabat buku. Sering-seringlah mengunduh (download) buku dari internet kalau bisia. Kalau guru tidak bisa mengunduh karena tidak ada internet, jauh dari kota, gagap internet, sebaiknya, cobalah cari informasi lain tentang buku yang layak untuk muridnya. Jalan kinerja guru masih panjang sehingga tidak perlu diputus dengan aturan yang mempersempit dunia keguruan.
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta Afrizal Sinaro menilai niat pemerintah untuk menyediakan buku murah secara online cukup baik.
Pakar pendidikan Arif Rahman dari UNJ menilai kebijakan pemerintah untuk mengurangi beban orangtua siswa melalui penyediaan buku dinilai cukup baik. Di antaranya, menyediakan buku dengan sistem online. Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto mengakui keberadaan buku online milik Depdiknas belum bisa diakses secara maksimal. "Ebook (buku online) Depdiknas memang belum lancar karena persiapannya tidak mudah sehingga terkesan terlambat," katanya di Purwokerto, Jawa Tengah,kemarin. Menurut dia, program yang akan diluncurkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2 Agustus mendatang itu harus dipersiapkan dengan matang.
Diakui, peraturan tentang buku teks semakin membuat guru selalu di tempat yang kurang beruntung. Maju kena mundur kena. Sudah bertahun-tahun seorang guru akan mendapatkan insentif tambahan (yang mungkin besarnya tidak seberapa) dari penjualan buku di sekolah. Tapi dengan munculnya Permen menjadikan penghasilan tambahan guru berkurang /hilang. Biarlah penghasilan hilang asal reputasi guru tidak melayang.
Siapa sebenarnya yang diutungkan dengan Lahirnya Permen ini, pemerintah, orang tua siswa atau guru. Dari 14 pasal aturan yang ada secara jelas bahwa pihak sekolah (guru) yang dipersalahkan. Tugas guru adalah mendidik, membimbing dan mengajar anak didik sedang penjualan buku adalah tukas pedagang (toko buku).Munculnya penjualan buku di sekolah awalnya lahir karena desakan orang tua/wali. Daripada anaknya mencari di toko buku yang belum tentu ada dengan kebutuhan pelajaran lebih baik pihak sekolah memfalisitasi dengan masuknya penerbit ke sekolah. Dengan demikian siswa dan orang tua tidak lagi susah (bingung) karena semua buku pelajaran yang diperlukan tersedia di sekolah. Dalam perkembangannya ketika harga buku di sekolah lebih mahal daripada “di Luar”, menjadikan penjualan buku di sekolah “bermasalah”. Akhirnya demi mengakomodasi kembali protes orang tua/wali, Pemerintah mengeluarkan Permen No.11/2005.
Mata rantai permasalahan sebenarnya tidak berpusat pada guru, tapi sejalan dengan perkembangan polemik ini banyak orang menuding bahwa gurulah yang bersalah. Padahal pihak penerbit sering “bermain” guna mendapatkan laba yang lebih. Hal ini mengingat pemasaran buku pelajaran terbatas waktunya. Karena guru menentukan buku pelajaran yang dipakai, siswa mau tidak mau harus membeli buku dimaksud, dan kemudian dipersalahkan bila terjadi “kejanggalan” harga jual.- beli. Meski sering kita dengar bahwa pihak sekolah akan diberi diskon 30% untuk tiap buku, faktanya 20% untuk siswa dan 10% untuk sekolah dengan harga mark-up. Padahal 10% yang diberikan ke sekolah akan dibagi untuk kepala sekolah, petugas dan guru. Ironisnya agar 10% nominalnya kelihatan banyak harga buku didongkrak lebih tinggi dari harga pasaran.
Guru sebenarnya hanya sebagai alat kapitalisme buku. Apapun kebijakan Pemerintah guru tetap dalam posisi yang tidak beruntung. Ibaratnya seorang guru mengampu satu mata pelajaran dengan jumlah murid 300 orang. Bila sebuah buku yang terjual sorang guru mendapatkan Rp1000, tiap awal tahun pelajaran seorang guru mendapat tambahan penghasilan Rp300.000. Tambahan penghasilan yang (akan) diterima pastilah sudah dialokasikan untuk keperluan (penting)guru. Karena seorang guru umumnya punya keluarga dan anak yang juga bersekolah. Tambahan yang diterima akan mengurangi beban pengeluaran guru, apalagi Pemerintah seringkali kurang menepati janji akan tambahan penghasilan/ kesejahteraan guru.
Kondisi pendidikan memang saat ini sedang diformat untuk antidagang. Guru hanya mengajar, membimbing, dan mendidik. Sekolah hanya ememfasilitasi terjadinya sebuah proses belajar siswa. Buku merupakan sarana dalam menjalankan proses. Lalu, bagaimana cara mendapatkan buku yang sesuai dengan kapasitas materi? Biarlah orangtua yang mencari dari toko buku di manapun, guru hanya sekadar memberikan daftar judul buku.
Kawanku guru, sudahlah jangan menyesal hanya tidak boleh menjual buku. Tinggalkan keuntungan yang hanya sedikit. raihlah keuntungan yang lebih besar dari Tuhan dengan mendidik siswa.
__________________
Kamis, Juli 31, 2008
Cara Praktis Membuat Buku Ajar bagi Guru
Oleh Suyatno
Membakar buku sebuah kejahatan,
tetapi ada yang lebih jahat
dibanding membakar buku,
yakni tidak membaca buku
(Joseph Brodsky)
Buku ajar seharusnya dibuat oleh guru untuk kepentingan pembelajaran di kelas. Namun, banyak guru yang tidak membuat buku ajar untuk muridnya. Buku ajar yang digunakan di kelasnya merupakan buku yang dibuat oleh orang lain, di tempat lain, dan tidak disesuaikan dengan konteks siswa yang ada. Akibatnya, banyak siswa yang belajar mengonsumsi bahan ajar terasa di awan, susah memahami, dan sangat bergantung isi teks. Bagaimana tidak. Siswa yang di daerahnya tidak ada kereta api, justru buku ajar yang ada mengupas kereta api bukan kapal laut yang digunakan siswa sehari-hari. Meskipun kereta api perlu diketahui siswa, pengalaman dan pengetahuan pertamanya tentang transportasi yang bagus tentunya berkaitan dengan kapal laut.
Buku ajar merupakan barang wajib yang harus dibuat guru. Buku itu harus menarik(eye catching) dan digemari siswanya sehingga mampu mendongkrak motivasi belajar siswa. Buku ajar tidak boleh kaku karena akan ditinggalkan siswa. Perwajahan buku memberikan inspirasi bagi siswa. Buku ajar perlu direkayasa sehingga bagus, menarik, dan penuh daya selera bagi pembacanya. Dengan begitu, buku ajar dapat mempermudah proses belajar-mengajar guru pada siswa.
Menurut Prof Yohanes Surya, Ph D, buku pelajaran yang mencerdaskan ialah buku yang dapat membuat anak-anak belajar jadi asyik, mudah, dan menyenangkan. Sehingga belajar tidak lagi menjadi sangat sulit. Contoh saja fisika, ketika orang mengatakan fisika,yang terbayang di kepala mereka adalah rumus. Hal itu yang seharusnya diubah. Diperlukan cara penyusunan buku-buku fisika agar tak melulu memuat rumus. Ia menitik pentingkan ulasan ilmu fisika bukan bergantung pada rumus, melainkan konsep. Karena itu, peran rumus dapat diganti dengan logika. Surya mencontohkan: “misal ada suatu benda dengan kecepatan lima meter per detik. Berapa jaraknya dalam lima detik. Untuk menjawab ini, cukup dengan logika. Lima meter per detik berarti dalam satu detik benda tersebut bergerak sejauh lima meter. Kalau lima detik, tinggal dikali saja dengan lima. Tidak perlu rumus apapun.”
Berikut cara praktis menulis buku ajar yang disukai siswa.
Sederhanakan
Isi buku ajar sebaiknya disederhanakan konsepnya sehingga mudah dipahami siswa. Rumus lebih sulit dipahami daripada logika rumus itu. Kata tertentu lebih susah dipahami di bandingkan kata lain yang akrab dengan anak. Gunakan bahasa yang sederhana dan lugas yang sesuai dengan bahasa siswa.
Gunakan Bahasa Baku
Penulis buku ajar haruslah menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga memberikan makna tunggal untuk pengungkapan konsep. Kata baku lebih mengacu kepada konsepnya dan berlogika. Penguasaan bahasa merupakan syarat pertama setelah penguasaan bidang ilmu yang akan ditulis sehingga mampu mengungkapkan pikiran dengan jelas, cermat dan mudah dipahami.
Mulailah dari Dekat
Yang dimaksud dari dekat adalah aspek yang ada dalam lingkungan siswa. Umpamanya, guru akan menulis unsur tanah, materi buku ajar dimulai dari tanah yang pernah dilihat siswa. Jika kita dapat memulai buku dari yang dikenal siswa, konsep yang akan diberikan akan mudah dikenali dan dipahami siswa.
Buatlah Peta Pikiran
Untuk mempermudah menjaring cakupan materi buku ajar yang akan ditulis, peta pikiran dapat membantunya. Tulislah topik utama di tengah kemudian buatlah topik-topik terkait untuk melingkari topik utama. Peta pikiran sangat membantu penulis untuk membuat kerangka buku ajar.
Bersoleklah di Perwajahan
Perwajahan buku, termasuk pilihan huruf, tabel, ilustrasi, dan warna yang digunakan perlu disolek agar menarik bagi siswa. Perwajahan yang baik akan memberikan motivasi pembaca untuk membaca dan membaca terus. Sebaliknya, buku yang jelek dalam perwajahan akan dijauhi siswa karena membosankan.
Rabu, Juli 30, 2008
Guru di Mata Mbok Siti (6)
Pagi-pagi, aku sudah berada di teras dapur rumah Mbok Siti karena memang sudah dijanjikan untuk datang. Benar juga, kopi dan ubi goreng sudah disiapkan di meja kecil dari kayu jati yang tampak reyot. "Wah, anakku sudah siap rupanya", celetuk Mbok Siti. Aku balas dengan senyum simpul malu-malu.
"Anakku, ubi goreng itu menjadi enak dimakan setelah diolah, diproses, dan dihidangkan", kata Mbok dengan pakaian kemerahan dan tampak segar. Dalam pengolahan terdapat konsentrasi dengan tujuan tunggal agar ubi dapat dimakan dengan lezat. Andai dalam pengolahan terdapat kesalahan sedikit saja, rasa ubi akan lain. Begitu pula, jika guru tidak mempunyai kemampuan mengolah, memproses, dan menghidangkan menu pembelajaran, tentu, pembelajaran akan hambar, tidak lezat, dan bisa jadi tidak dapat dinikmati oleh siswa. Guru harus dapat mengukur seberapa apik menu yang harus dihidangkan di hadapan siswa dalam konteks tertentu.
Guru tidak sekadar memberikan bahan ajar semata. "Dia harus mengetahui ukuran sajian bahan yang pas bagi anak", katanya berseloroh. Lihat saja, Kursi yang kamu duduki pasti serasa nyaman karena dibuat dengan ukuran yang pas bagi orang yang akan duduk. Ubi ini juga terasa lezat karena mempunyai tingkat kematangan yang sesuai, gurih, dan enak.
Selasa, Juli 29, 2008
Melihat Pola Penanganan Kinerja Guru di India
Oleh Suyatno
Pembinaan guru yang tersistem dan terarah ternyata mampu memberikan pengaruh bagi cara mengajar dengan baik dan meningkatkan prestasi siswa. Hal itu terlihat di India dalam program peningkatan guru-gurunya. Guru India terpantau secara rinci dan harus mengikuti pelatihan berstandar dari fase rendah ke fase tinggi, siapapun dia, dan dimanapun dia berada. Bandingkan dengan di Indonesia, pelatihan guru tidak tersistem dan terserah guru dalam berlatih.
Pada awalnya, guru di India sangat tidak meyakinkan untuk meningkatkan SDM rakyat India. Kemudian, muncullah pertanyaan dari pemerintah India, yakni "Bagaimana sistem pendidikan dapat memberi perubahan pada guru dan dalam skala besar? Padahal jumlah sekolah, terutama SD meningkat drastis dari 0,84 juta dalam tahun 1999-2000 menjadi 1,04 juta dalam tahun 2005-2006, dan jumlah guru meningkat dari 3,2 juta dalam tahun 99-00 menjadi 4,17juta dalam tahun 05-06. Hal tersebut merupakan peningkatan yang besar dan fantastis. Namun, kenyataannya jumlah peningkatan itu tidak beriring dengan peningkatan pembelajaran yang mampu mendongkrak mutu anak. Pembelajaran tetap saja pada tingkat yang sangat rendah.
Padahal, Pemerintah India selalu melakukan pelatihan bagi guru [in-service] yang rata-rata 20 hari dalam setahun di bawah Program PUS India, Sarva Shiksha Abhiyan. Salah satu realisasi yang muncul adalah tidak adanya kesepakatan dan kejelasan bagaimana ‘pelatihan guru yang baik’ juga karena tidak adanya kesepakatan dan mengenai bagaimana mengajar yang baik.
Nilai ujian siswa dapat dicapai meskipun tanpa didukung guru dalam mengajar dengan baik. Untuk mengatasinya, diperlukan asesmen dan strategi terencana guna meningkatkan kualitas mengajar dan belajar bagi guru. Upaya itu digencarkan secara nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah India dengan dukungan dari UNICEF dalam program ADEPTS [Advancement of Educational Performance through Teacher Support] Program ADEPTS dimulai dengan sebuah pertemuan badan penasihat yang dihadiri oleh beberapa negara bagian di India untuk menyetujui draf ‘standar kinerja’ untuk guru, pelatih dan institusi pendukung guru dari kecamatan sampai tingkat provinsi. Menariknya, konsensus pertama yang dihasilkan adalah keberagaman kelompok siswa adalah faktor utama yang diperhatikan. Menurut raapat itu, anak mempunyai latar belakang sosial ekonomi, etnis, bahasa, dan tingkat kemiskinan yang berbeda yang memengaruhi kemampuan mereka bersekolah. Di India, peningkatan pendaftaran telah menyadarkan anak-anak yang secara tradisi tidak pernah bersekolah seperti anak cacat, pekerja anak, kelompok imigran, anak perempuan dari masyarakat tertentu dan lainnya dari kelompok yang paling marginal untuki bersekolah.
Memang sebelum ADEPTS dilaksanakan, Kelas, pedagogi, kurikulum dan bahan pelajaran masih belum dapat menganggap pentingnya hubungan keragaman latar belakang siswa, sebagai akibatnya mereka mengorbankan yang lemah dan kualitas pendidikan secara keseluruhan tetaplah buruk.
Program ADEPTS adalah menciptakan kepemilikan dan mengubah cara yang ‘masuk akal’ dalam diskusi dengan para praktisi. Program itu dimulai dari sebuah pertemuan untuk menimbulkan persepsi baru bahwa tempat kerja guru yaitu sekolah adalah satu kesatuan penting dari hubungan dan proses. Berikutnya, peserta dalam proses tersebut, termasuk guru-guru, terikat pada pertanyaan: "Apa yang kita inginkan untuk melihat yang sedang dikerjakan guru?" Banyak jawaban yang muncul dari pertanyaan ini, dan yang penting adalah kesepakatan. Kesepakatan yang muncul adalah sekolah mempunyai empat dimensi yang harus menyatu, yakni fisik [atau menciptakan lingkungan fisik yang kondusif], kognitif [memungkinkan pembelajaran melalui interaksi], sosial [berpusat pada hubungan, etika] dan organisasional [sekolah sebagai sebuah badan, dalam kaitannya dengan masyarakat]. Keempat aspek itu menjadi ‘pernyataan standar’, dengan daftar yang mereka pegang sebagai indikatornya.
Dengan pernyataan standar itu, tahap berikutnya adalah mengukur tingkat kinerja saat ini. Tim pusat kemudian melaksanakan ‘kunjungan siswa ke negara bagian lain’ ke ratusan sekolah dan struktur-struktur pendukungnya. Di seluruh negeri, ada sebuah kesadaran bahwa kinerja guru di dalam kelas pada kenyataannya berada pada tingkat yang sangat rendah dan perlu untuk ditingkatkan secara dramatis.
Kemudian, guru di India ditingkatkan dengan berdasarkan pada beberapa kunci dasar yang disepakati sebagai berikut.
Pertama, motivasi utama bagi para guru adalah mengalami kesuksesan di kelas. Inilah persyaratan minimal yang harus dipenuhi guru sebelum menerapkan standar-standar lainnya.
Kedua, guru harus berubah dengan lebih banyak menerapkan praktik daripada melalui teori.
Ketiga, guru mempunyai kesempatan untuk belajar Kesempatan belajar itu direncanakan dalam untuk pengembangan guru, yang dibagi fase triwulanan, setiap fasenya mempunyai angka indikator yang sangat terbatas untuk dicapai [4-8]. Ketika guru mencapai satu indikator, dia berkesempatan ikut pelatihan ke fase yang lebih tinggi. Institusi pendukung juga bekerja sama dengan para guru dan berjalan berdampingan satu sama lain.
Keempat, Standar dan indikator kinerja guru diarahkan ke langkah nyata yang dapat diterapkan secara aktual oleh para guru.
Dalam beberapa bulan, lebih dari 15 negara bagian di seluruh negeri baru-baru ini telah berinisiatif melaksanakan ADEPTS dalam cara yang berbeda dalam memperbaiki pelatihan, mengadakan pertemuan tahap lokal para guru untuk memilih dan menerapkan standar, dan mengembangkan materi pendukung.
sumber: ww.idp-europe.org/eenet/newsletter5_indonesia

